Header Ads

Breaking News
recent

Kunci sederhana untuk Sukses


Setiap orang memiliki cita-cita dan harapan, dan tentunya harus disesuaikan dengan kemampuan yang dimilikinya. Ya, apa yang kamu cita-cita harus terukur, maksudnya kemungkinannya untuk terwujud ada dengan memperhatikan peluang dan kendala yang ada.



Sebagian orang memiliki cita-cita besar, namun target dia dalam berusaha kecil. Kamu harus tau bahwa target yang menjadi tujuanmu akan mempengaruhi hasil dari usahamu.

Misalnya ada dua orang sahabat yang bekerjaan pada perusahaan yang sama dangan gaji yang sama-sama 1.500.000/bln, anggap nama mereka Andi dan Dino. Mereka sama-sama ingin memiliki kendaraan sendiri yaitu sepeda motor. Kebutuhan perbulan mereka menghabiskan sekitar 1.200.000. Nah, sisanya ditabung untuk beli motor. Setelah 1 tahun berlalu mereka sama-sama membeli motor. Si Andi beli motor bekas dengan harga 2 juta, si Dino beli motor bekas dengan harga 6 juta. Tentunya motor Dino lebih bagus, karna perbedaan harga yang jauh lebihmahal  menunjukkan kualitas yang jauh lebih tinggi.

Pertanyaannya bagaimana Dino mampu membeli motor dengan harga 6 juta, karna 12 bulan x 200.000 = 2.400.000 saja. Jawabannya karna Dino memiliki target untuk membeli motor yang bagus dan berkualitas dalam satu tahun mendatang, walaupun bukan motor baru. Diapun mulai mengurangi pengeluarannya setiap bulannya, dia juga mencari pendapatan lain pada hari libur dan malam hari. Karna targetnya ingin mendapatkan uang sekitar 8 juta untuk satu tahun kedepan membuat dia berusaha lebih keras daripada Si Andi yang hanya menargetkan hanya beli motor dengan kualitas jelek, baginya yang penting motornya bisa dipakai.

Dalam pendidikan ada yang namanya ujian untuk kenaikan kelas atau semester, nilai maksimal untuk sebuah mata pelajaran 100 atau 10. Peringkat tertinggi adalah juara umum atau juara satu. Jika peserta didik meletakkan target nilainya saat ujian pada angka 70-80, maka pada umumnya diatertinggi yang diperolehnya adalah 75, namun rata-rata yang dieroleh adalah 65-72.  Jika yang ditargetkan nilainya adalah 100, maka Insyaallah yang diperoleh akan lebih dari 95.

Mereka yang memiliki target 100 akan belajar lebih giat dari yang targetnya 80, sehingga ilmu dan kemampuannyapun akan lebih tinggi. Dia akan berusaha untuk memahami seluruh bab pada mata pelajaran yang menjadi targetnya, sedangkan mereka yang 80 akan meninggalkan bab yang menurus mereka susah atau tidak terlalu penting.

Sebuah contoh nyata yang Saya alami sendiri, pada suatu waktu di Kampus kami diadakan lomba menghapal hadist  Sayapun mendaftarkan diri untuk menjadi peserta, setelah seluruh nama peserta diumumkan Saya melihat nama-nama teman-teman yang memilikiprestasi yang jauh diatas Saya dari segi hapalan. Diantara mereka ada yang sudah ikut lomba hadist ke Jakarta dengan 100 hadist bersanad dan 400 tanpa sanad, ada pula yang sudah ikut tingkat Asean. Yang lain penghapal Al quran 30 Juz, teman lainnya adalah orang yang terkenal banyak hapalannya baik hadist maupun buku-buku ilmiah. Sebagian lagi mereka yang memiliki prestasi jauh diatas Saya dari segi nilai akademik, mereka semua yang akan menjadi lawan Saya pada perlombaan ini. Tentunya ada pula yang menurut Saya kemampuannya berada dibawah Saya.

Untuk mengikuti lomba ini Saya pasang target mendapat peringkat teratas, karna yang akan bersaing dalam lomba ini banyak yang lebih hebat dari Saya maka Saya harus lebih banyak usaha dari pada mereka. Setiap hari Saya menghapal hadist-hadist tersebut, jika ada waktu kosong Saya manfaatkan untuk mengulang hapalan Saya, baik diucapkan ataupun hanya sekedar diingat dalam hati. Bukan hanya sekedar hapal yang menjadi tujuan Saya, tapi Saya harus menghapalnya seperti Saya membaca lembaran kertas yang bertuliskan hadist tersebut.

 Pada waktu  Saya mengulang hapalan hadist tersebut terdapat seorang teman yang juga ikut lomba, dia berkata “kayaknya nggak akan bisa menang kita ni. Lawan kita aja si Fulan dan Si Fulan”. Ia mulai menyebut nama-nama mereka yang berprestasi tinggi,  menganggap lemah dirinya dan berpikiran tidak akan bisa menang, padahal belum tentu anggapannya benar. Saya hanya diam dan berkata dalam hati “aku tidak peduli siapapun yang ikut dalam perlombaan ini, yang terpenting aku meraih nilai terbaik. Kalau perlu Syaikh Fulan ( Saya tidak menyebutkan nama beliau disini, ia seorang Syaikh yang kuat hapalannya) yang ikut perlombaan ini, Saya tidak akan gentar. Juara satu harus Saya raih

Alhamdulililah Saya berhasil menghapalnya seperti Saya mengahapal Al-fatihah, bahkan jika diputar, dibalik ataupun diaduk-aduk hadist yang mirippun bisa Saya ketahui. Pada awalnya perlombaan akan dilakukan secara lisan, Saya benar-benar sudah siap dan tidak sabar menunggu waktu itu. Tiba-tiba dirubah secara tulisan, sekedar informasi tulisan Saya sangat jelek, sering sekali Saya terlambat keluar dari ruangujian karna sibuk memperbaiki tulisan Saya yang jelek. Saya takut kalau dosen tidak bisa baca, sehingga nilai Saya berkurang. Belum lagi Saya juga lambat dalam menulis. Jika lomba hapalan ini dilaksanakan secara tulisan, maka pemenang akan diambil dari yang tercepat dan yang paling benar dari jawabannya.

Saya sempat merasa kesal, karna walaupun hapalan Saya kuat kemungkinan besar Saya tidak akan menang. Disebabkan lambatnya Saya menulis dan memperbaiki tulisan yang jelek. Namun, karna target Saya adalah meraih peringkat tertinggi maka Sayapun tidak menghiruakan perubahan itu. Dengan izin Allah taala, Saya berhasil meraih juara satu mengalahkan mereka yang lebih hebat daripada Saya.

Di kesempatan lain, untuk menghadapi ujian semester 7 Saya memasang target masuk 5 besar dari sekitar 100 orang Mahasiswa angkatan Saya dengan rata-rata nilai diatas 95. Selain itu Saya juga ingin mengalahkan sekitar 3 orang teman yang berada diposisi 7 besar. Semester 6 sebelumnya Saya berada diperingkat 16, untuk meraih target tersebut Saya jauh-jauh hari Saya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian, Saya mulai dari mata kuliah yang sulit untuk Saya pahami hingga mata kuliah yang mudah. Biasanya Saya tidur jam 22.30 berubah menjadi 23.00 atau 23.30, waktu tidur siang dari jam 13.30 – 15.30 Saya gunakan untuk belajar, sambal makan Saya ingat-ingat apa pelajaran, begitu juga saat berjalan dan ketika hendak tidur yang biasanya Saya gunakan untuk menhayal Saya ganti untuk mengulang-ngulan pelajaran tadi siang.

Usaha Saya membuahkan hasil, target masuk 5 besar tercapai, Saya pas berada diperingkat ke lima.  2 dari 3 orang tersebut sekarang peringkatnya dibawah Saya, target meraih rata-rata diatas 95 gagal Saya raih, rata-rata Nilai Saya saat itu 94,40 an.

Pertanyaannya, kenapa pada lomba hapalan Hadist Saya targetkan peringkat pertama walaupun Saya tau banyak saingan Saya yang memiliki kemampuan diatas Saya, dan di Ujian Semester target Saya hanya pada 5 besar?

Jawabannya terletak pada ukuran kemmpuan, maksudnya Saya ukuran target Saya untuk meraih juara satu pada lomba hadist terukur dengan kemampuan Saya, sedangkan pada ujian semester 7 menurut Saya ukuran kemampuan Saya hanya pada 5 besar saja.

Jadi letakkan lah targetmu sesuai kemampuan, trus boleh tidak memasang target diatas kemampuan? Ya, tentu boleh. Tapi ingat semua target yang diluar kemampuan harus memiliki kemungkinan untuk tercapai, walaupun kemampuannya sangat kecil. Misalnya, seorang remaja yang hanya tamat SD ingin menjadi pengusaha sukses, tentu kemungkinan itu ada, dan dia harus mencari cara untuk meraihnya.

Bukti nyata dari keberhasilan meletakkan target yang tinggi sangat banyak, diantaranya :

1.     Target Rasullullah Shallahu alihi wasallam yang ingin cahaya islam menyinari seluruh dunia, menguasai atau mengalahkan kerajaan Romawi dan Persia, yang mana pada saat itu 2 kerajaan ini menguasai dunia. Adakah kemugkinan bagi kelompok kecil yang yang terdiri dari orang-orang bawahan menguasai Romawi dan Persia? Ada, dan semua harus dengan usaha keras. Apakah mereka berhasil? Kenyaatanlah yang menjawabnya.

2.     Target Muhammad bin Amir, seorang Kuli Pasar yang ingin menjadi Khalifah di Zaman Bani Umayyah II di Andalusia. Dia hanya seorang kuli yang tidak memiliki hubungan kerabat sedikitkpun dengan kerajaan, untuk mencapai targetnya ia lakukan semua yang bisa mengantarkannya menuju kekursi kekhalifahan. 30 tahun  berlalu targetnya tercapai, sekali lagi dengan kesungguhan dan kerja keras.

3.     Dalam sejarah Indonesia pada Zaman kerajaan Maja Pahit, seorang Patih yang bernama “Gajah Mada” memasang target untuk menguasai seluruh Nusantara Raya yang saat ini wilayah tersebut terdiri dari Indonesia, Malaysia, Sebagian Wialayah Myanmar, Filipina dan Thailand dan harus berada dibawah kekuasaan Maja Pahit. Apakah dia berhasil? Ya, dia berhasil meraih targetnya.


Nah, mulai sekarang raihlah cita-citamu dengan meletakkan target setinggi-tingginya, dan harus diusahakan bukan sekedar hayalan semata. Jangan Cuma sekedar bilang, aku ingin menjadi ini dan itu, aku ingin begini dan begitu, namun tidak ada usaha untuk meraihnya.

Sumber :

http://mumakarya.blogspot.co.id/

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.