Densus 88 Dipuji?
Di saat dunia sedang memerangi lonjakan serangan dan rencana
militan-militan Islamis, unit anti-terorisme Indonesia mendapat pujian karena
membendung gelombang serangan-serangan berdarah di negara ini.
Pihak berwajib di Indonesia telah menggagalkan setidaknya 15
serangan tahun ini saja dan melakukan lebih dari 150 penahanan, mengacaukan
rencana dari mulai serangan bunuh diri di Jakarta sampai serangan roket di
Batam yang menyasar Singapura.
Tahun 2010, analisis data yang dilakukan kantor berita Reuters
menunjukkan bahwa unit elit polisi, Detasemen Khusus 88 (Densus 88), telah
mencegah sedikitnya 54 rencana atau serangan di Indonesia.
"Densus 88 telah menjadi lebih baik dibandingkan kelompok
kontraterorisme mana pun di dunia," ujar Greg Barton, profesor ekspor
terorisme dan riset dalam Politik Islam Global di Alfred Deakin Institute di
Melbourne.
"Mereka memiliki beban kerja yang luar biasa dan mereka
telah menjadi sangat hebat dalam pekerjaan mereka."
Dalam enam tahun terakhir, hanya ada satu serangan besar di
Indonesia yang menyebabkan kematian warga sipil, ketika penyerang menarget
pusat perbelanjaan Sarinah dan pos polisi di dekatnya dengan tembakan senjata
dan bom, menewaskan tiga warga negara Indonesia dan seorang warga
Aljazair-Kanada. Keempat penyerang juga tewas dalam serangan bulan Januari 2016
itu.
Antara 2003 dan 2009, ada sembilan serangan besar oleh para
militan, membuat 295 orang tewas dan ratusan lainnya terluka.
Sejak pembentukannya tahun 2002, Densus 88 telah memusatkan
upaya besar pada pengumpulan intelijen rahasia. Sekarang banyak pekerjaan
intelijen tersebut dilakukan secara daring, dengan menginfiltrasi dan memantau
ruang-ruang perbincangan, media sosial dan aplikasi-aplikasi pesan yang populer
di kalangan militan.
Hanya sedikit informasi mengenai Densus 88 yang tersedia untuk
publik.
"Kami membangun organisasi kami untuk belajar dari
musuh," ujar seorang pejabat kontraterorisme senior yang memberikan
pengetahuan mengenai cara kerja unit tersebut dengan syarat tidak diungkapkan
identitasnya.
Didirikan setelah pemboman Bali 2002 yang membunuh lebih dari
200 orang, Densus 88 memiliki sekitar 400 sampai 500 anggota, persenjataan
canggih dan pelatihan, ujar seorang pejabat lain lagi. Unit ini telah menerima
pendanaan lebih dari US$200 juta dari sekutu-sekutu Barat seperti Australia dan
Amerika Serikat.
Unit itu dipimpin sebuah gugus kerja dengan sekitar 30 anggota
senior, menurut seorang sumber kepolisian.
"Banyak di antaranya memiliki gelar doktoral dan
spesialisasi seperti psikologi dan perilaku sosial," tambah sumber itu.
"Mereka bukan polisi biasa."
Para anggota Densus 88 berseragam hitam dan bersenjata berat
yang terkadang terlihat dalam penggerebekan di persembunyian militan hanya
mencakup jumlah kecil dalam unit tersebut, ujar para pejabat itu.
Lebih banyak personel didedikasikan untuk mengumpulkan data
intelijen di lapangan dan memantau komunikasi dan aktivitas daring. Ada juga
sebuah tim besar berisi para penyelidik yang menganalisis intelijen dan
memeriksa peledak dan bukti lainnya secara forensik.
Sidney Jones, direktur Institute for Policy Analysis of Conflict
(IPAC), mengatakan kunci keberhasilan Densus 88 ada pada pengumpulan intelijen.
"Mereka tahu jaringan-jaringan radikal dan memiliki
informan-informan yang bagus," ujarnya. "Kemampuannya tidak
tertandingi dalam hal memahami sumber-sumber kemungkinan ancaman."
Sebuah Sudut
Pandang
Sejauh ini Densus 88 hanya bisa menembak Mati para “Terduga”
teroris, jika hanya menembak mati seperti itu, semua Angkatan Bersenjata tentu
bisa. Buktikan keberhasilan kalian dengan menangkap orang yang benar-benar
teroris, ini baru terduga sudah dibunuh!.
Mungkin saja sebenarnya mereka bukan teroris, tapi sengaja
dimanfaatkan untuk menaikkan reputasi kelompok 88 ini. Dan tentunya ada tujuan
tersembunyi dari semua itu, yaitu untuk merusak citra Islam, kenapa semua orang
yang dibunuh yang mereka katakan teroris adalah orang Islam. Hal ini karna
penopang utama si 88 ini adalah musuh Islam yang dipelopori oleh Amerika dan
Australia.
Jika yang mencurigakan orang Islam langsung tembak mati, kecurigaan
yang berlebihan tanpa kasih sayanglah yang membuat Densus 88 membabi buta dalam
membunuh para terduga. Padahal apa yang mereka tuduhkan belum tentu benar jika
meraka ditangkap hidup-hidup.
Sumber :
http://www.voaindonesia.com/

Tidak ada komentar: