Indonesia "Waspada, Etnis Tionghoa semakin banyak masuk kancah politik"
Secara personal turunan Tionghoa
sudah lama sekali bermain pada wilayah politik praktis di negeri Bhineka
Tunggal Ika bernama Republik Indonesia ini. Tetapi sebagai sebuah Parpol dengan
entitas ke-Tionghoa-an tak bakal kita lihat, hal yang juga kita mudah melihatnya
pada eksistensi Parpol lain dengan sandaran etnis.
Dari basis-basis priomordialis
paling-paling yang telah dicatat dalam sejarah adalah partai berbendera agama,
Parpol yang marak pada zaman Soekarno dan lalu difusi di zaman Soeharto.
Ahok, meski ia lebih sebagai
birokrat daripada sebagai politisi, merupakan satu di antara begitu banyak
orang-orang Tionghoa yang berkibar pada era demokrasi pasca reformasi di
Indonesia.
Zaman ini memberikan kesempatan
terbuka lebar bagi etnis Tionghoa untuk berpolitik. Inilah era menjadi ajang
pembuktian walau banyak juga yang gagal.
Tahun ini adalah pengalaman
pertama Yandi, 34 tahun, duduk sebagai anggota DPRD di Pontianak, Kalimantan
Barat, setelah maju sebagai calon legislatif dalam pemilu 2014. Ambisi Yandy
cukup tinggi: menjadi presiden pada 2030 mendatang adalah cita-cita jangka
panjangnya. Dia tak sendiri, calon-calon politisi dari etnis Tionghoa dalam
pemilu kali ini sudah banyak bermunculan baik di tingkat daerah hingga
nasional.
Taipan media Hary Tanoesoedibyo
misalnya dalam pemilu lalu tak ragu untuk terjun ke politik praktis dengan
mendeklarasikan dirinya sebagai calon wakil presiden keturunan Tionghoa pertama
lewat Partai Hanura.
Contoh lainnya adalah bos Lion
Air Rusdi Kirana – pebisnis keturunan Tionghoa – juga secara terbuka menyatakan
dukungan ke partai Islam, Partai
Di era kepemimpinan Susilo
Bambang Yudhoyono, Marie Elka Pangestu mencatat sejarah sebagai menteri
perempuan keturunan Tionghoa pertama di kabinet. Pada 2004 dia dipercaya
memimpin pos kementerian perdagangan sebelum akhirnya didaulat menjadi menteri
pariwisata dan ekonomi kreatif pada 2011 lalu.
Terlepas dari kontroversi dukung-mendukung
parpol, munculnya warga etnis Tionghoa di panggung politik mencerminkan
kebebasan dan demokrasi.
Sejak era kepeminpinan
Abdurrahman Wahid, tembok batas diskriminasi atas warga Tionghoa memang
perlahan terkikis selapis demi selapis.
Sofjan Wanandi – mantan aktivis
1966 berdarah Tionghoa – mengakui bahwa kini orang Tionghoa yang berpolitik dan
duduk di pemerintahan sudah tidak lagi dianggap ‘ajaib’ oleh orang kebanyakan. “Keinginan
(warga Tionghoa) untuk juga berpolitik dan jangan bisnis saja, itu sudah
terjadi. Dan menurut saya baik, ada tanggung jawab sosial juga kepada bangsa,
dulu kan tidak boleh.”“Saya melihat sudah tidak banyak resistensi lagi,”
katanya.
“Ini yang menggembirakan, etnis Tionghoa sudah
mulai diterima dan diakui eksistensinya sebagi bagian integral dari bangsa Indonesia.”
Sebuah Sudut Pandang
Walau Bagaimanapun Etnis Tionghoa
tidak bisa dibiarkan terlalu bebas dalam berpolitik di Indonesia, Jika
dibiarkan begitu saja, mereka akan menjadi seperti binatang buas dan sangat
liar. Pribumi akan menjadi budak-buadak mereka. Contohnya saja Ahok, dia
berbuat sesuka hatinya terhadap rakyat. Jika tionghua berkuasa, kemungkinan
besar Indonesia akan berubah wajah dari demokrasi menjadi komunis, dari jernih
manjadi keruh. Siapa yang menjadi korban?, Tentunya kita semua, oleh karena itu
sampai kapanpun, katakana STOP pada politikus cina untuk maju ke kursi
pemerintahan.
"ini kabar yang mengembirkan bagi mereka dan menyedihkan serta menakutkan bagi pribumi"
Sumber :
topikindo.com

Tidak ada komentar: